![]() |
| Prima SW |
ANGKA TADI BELUM berarti apa-apa. Beruntung kami
dibawa ke Desa Paok Rengge, Lombok Tengah, untuk menengok macam apa rupa kebun
tembakau.
Kami bergeser ke Paok Rengge tepat di
jam makan siang. Di rumah Syamsul, petani tembakau muda yang melanjutkan kebun
tembakau ibunya—dan disekolahkan dari hasil itu. Tidak ada mendoan hari ini,
berganti dengan ayam taliwang, urap, dan sate lilit. Khas Lombok.
Habis makan, kami mengobrol di dengan
Sukirman dan Syamsul. “Haji Sukirman,” ia mengenalkan diri. Haji dari tembakau.
Ia bangga dengan itu dan berterima kasih kepada Djarum.
“Rokoknya apa, Pak?” Saya menanyakan
rokok yang diisapnya sehari-hari.
“Surya.” Ia jawab begitu sambil
senyum. Produk Gudang Garam.
Salah satu yang membuat Sukirman
nyaman bermitra dengan Djarum karena Iskandar menetapkan harga beli lewat
musyawarah dengan petani. Luas kebun Sukirman 0,8 hektare. Artinya, jika panen
terbaik, ia mendapat margin Rp18,4 juta per panen. Dalam setahun panen sekali.
Jika 18,4 juta itu dibagi untuk biaya hidup setahun, ada 1,5 juta untuk makan
sekeluarga sebulan. Mengapa ia bisa naik haji?
