Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

09 Desember 2012

Payung Teduh: Pujaan yang Datang Malam-malam


Penampilan Payung Teduh dalam "Resah".

MENGENAL Payung Teduh di akhir tahun 2011, tak butuh waktu panjang untuk menyukai band ini. Tak lama berkutat dengan album pertama dan satu-satunya milik mereka yang dijuduli sama, Payung Teduh—album yang memang luar biasa—tanggal 2 Desember di tahun yang sama, extended play (EP) mereka dirilis di Coffeewar, Kemang, Jakarta. Titelnya Dunia Batas.

04 September 2012

Payung Teduh: Berteduh pada Sendunya Malam

akmal.blogspot.com

Album : Payung Teduh
Band : Payung Teduh
Rilis         : 16 Desember 2010

BANYAK juga yang bilang ini: musik Indonesia tak bergerak linear ke arah kebobrokan. Saya setuju. Memang, bahwa kehadiran musik populer khas Dahsyat, Derings, dll. adalah tanda-tanda buruk. Tapi masih ada band-band bawah tanah yang memberikan optimisme jika musik memang berkembang lebih baik. Tak percaya? Dengarkanlah Payung Teduh dalam album self titled-nya.

14 Mei 2012

Tua Sebagai Ilusi: Resensi singkat dua novel II

MESKI mengandung banyak kesamaan (keduanya sama-sama sendirian, namun punya sahabat baik: Manolin dan dr. Rubicondu Loachamín), latar peristiwa yang berbeda menghadirkan pengalaman berbeda bagi saya. Sepúlveda mendeskripsikan hutan Amazon dan perilaku suku Indian Shuar, sementara Hemingway berkutat pada kebiasaan-kebiasaan nelayan Kuba. Kita bisa mengetahui bahwa api akan menarik perhatian binatang di hutan (sehingga lebih baik tak menyalakan api)  sekaligus mengenal kebiasaan memakan ikan mentah nelayan Kuba.

Tua sebagai Ilusi: resensi singkat dua novel

Diambil dari mariamarley.wordpress.com.
Catatan: tulisan ini mengandung bocoran cerita Lelaki Tua dan Laut dan Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

DUA orang pria tua tengah berhadapan dengan kekuatan raksasa dalam jagad misterius alam. Yang seorang berkayuh di laut, yang seorang lagi menyusuri rimba dengan sepucuk pistol. Mereka adalah Santiago dan Antonio José Bolívar Proaño.