Tampilkan postingan dengan label Ceracau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceracau. Tampilkan semua postingan

07 Februari 2013

Awan yang Rajin dan Berbakti


Masa kecil saya bahagia :)
DULU di rumah ada sebuah tape merek Sony. Bapak saya tipikal yang suka membeli rekaman lagu anak-anak, dari yang kaset tape hingga CD. Satu kaset selalu diputar waktu saya kecil. Warnanya hitam, ada label berwarna oranye dengan motif batik. Tak ada judul, tak ada keterangan penyanyi. Dari umur tiga tahun, saya sebut itu kaset—meniru cara Ibu menyebutnya—kaset Chicha. Setelah saya besar, saya baru tahu itu lagu-lagu Chicha Koeswoyo.
***

21 Februari 2010

Pergi

Pangeran Kecil
SIANG ini aku sempatkan membaca Le petit Prince (Pangeran Kecil) sambil menunggu seseorang di hadapanku yang tak berhenti bicara pada orang lain, alih-alih padaku. Buku favorit yang sudah dibaca berulang kali. Pikiranku melayang-layang.

“Déjà vu” (pernah melihat, Prancis), aku kira kemarin siang aku mengalaminya. Tapi bukan, bukan “déjà vu”. Bukan sekedar sesuatu yang pernah kulihat, tapi kualami, “Je suis déjà”.

Mengantar seseorang menjemput kehilangan. Bukan sesaat tapi selamanya.

Tolong Jangan Minum Soft drink


Kebiasaan orang Indonesia ketika menyebut suatu jenis produk dengan nama merek terkenal dari produk tersebut, seperti ketika orang mengatakan deterjen dengan ‘Rinso’, soft drink pun kerap direpresentasikan dengan sebutan ‘Coca-Cola’. Soft drink adalah minuman berkarbonasi. Karbonasi merupakan bentuk penginjeksian gas Karbon Dioksida dalam air, sehingga menimbulkan gelembung-gelembung yang terkesan menyegarkan. Minuman ini ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1830. Komposisinya sangat sederhana, 90% air, sisanya kombinasi pemanis buatan, gas CO2, pencita rasa, pewarna, asam fosfat, kafein, dan beberapa mineral terutama aluminium (bayangkan, kita mengonsumsi aluminium, bahan pembuat rangka pesawat dan alat rumah tangga!).

Ibu Guru Malèna

Malèna (2000)

MENGGUNAKAN ungkapan paradoksal, maka usai menyaksikan Malèna, saya mau mengutuk Giuseppe Tornatore yang mendobrak paham ortodoks saya selama ini soal pelacur dan janda kembang.

Anonim

kapan berakhirnya sayang
musim hujan di hati kita
sebuah pelangi
di luar hujan, maka duduk saja
maka bercerita saja tentang cinta
aku tahu kau haus, segaja
ku tuang cinta, ku sajikan
tetapi tidak sekarang
sayang, pikirkan
sebelum semua terasa begitu usang


(sebuah puisi anonim di buku curhat EKSPRESI, April 2007)

Surabaya-Madura-Jember: Antara Bau Got, Nasi bebek, dan Homo #4-5

Kucing-kucing di Tegalboto.
#4

Kereta sudah sepi sehingga lebih longgar untuk dikuasai bangku-bangkunya. Kursi keras dan jendela kotor yang sudah satu setengah tahun saya akrab. Sampai di Jember pukul 22.30. Di luar stasiun ada 3 orang antek Tegalboto (yang diakui sebagai anak buah oleh PU-nya) yang pemurah nan luhur budinya menunggu kedatangan kami: Mas Arys, Mas Nuran, dan Ulul. Kecuali Mas Arys, saya curiga akan kebaikannya menuntut pamrih dan bayaran: gadis manis EKSPRESI asal Jepara. Oya, Stasiun Jember benar-benar bikin saya mencibir. Mirip rumah sakit atawa puskesmas. Panjang, putih, beratap rendah, dan terbuat dari kayu. Horor dan mistis!

Surabaya-Madura-Jember: Antara Bau Got, Nasi bebek, dan Homo #2-3

Pakai udeng.
#2

MALAMNYA, usai dilayani dengan keramahan orang-orang Madura di rumah Ami, saya dan Nisrina berusaha untuk tidur. Asem! Kami bolak-balik bangun karena nyamuknya seganas anak-anak EKSPRESI kalau melihat makanan. Tesis Nisrina, ini akibat got depan rumah yang menggenang dan kotor. Sepupu saya, Tyo, bilang, seperti kali di tengah Surabaya, airnya tidak bergerak karena kontur daerah yang rata. Makanya limbah dan sampah di air yang tenang jadi bau yang dahsyat.

Surabaya-Madura-Jember: Antara Bau Got, Nasi bebek, dan Homo #1

Yang di belakang Tin Tin dan yang di depan Snowy-nya :)
SAYA menulis catatan ini di malam pertama bulan kedua tahun 2010. Dalam keadaan yang lelah namun puas karena berhasil menuntaskan salah satu target tahun ini yang saya buat sebulan lalu: jalan-jalan ke Jawa Timur!

Menemukan yang "Tulus" di Facebook

Enggak ada hubungannya dengan konten di bawah, tapi lucu sih. Hehehe.  (Sumber)
SEMAKIN lama arena facebook semakin pikuk. 350 juta manusia berjejal dalam akun-akun maya. Saling berlomba mencari perhatian dan mencipakan impresi.

Simfoni Mahasiswa Pemalas

Orang Terkenal Selalu Benar

“SHEILA Marcia jadi ikon antiaborsi,” demikian kepala berita yang saya baca.

“Salah satu rumah sakit di bilangan Jakarta, yang peduli pada bidang kebidanan, menunjuk Sheila untuk menjadi ikon anti aborsi. Proses terpilihnya Sheila tersebut sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir,” lanjut berita tersebut.

Seribu Tahun Tak Lama

Dari laman Anonymous Art of Revolution

NENEK Minah, sungguh saya tak kenal.

Syahdan suatu malam di kamar kos, televisi tetangga kamar yang suaranya membahana hingga kamar saya menyiarkan berita Nenek Minah. Saya mendengarkan semata-mata karena kata Purwokerto terselip dalam penggalan berita malam itu. Sayup-sayup yang saya pahami, seorang perempuan bernama Minah dihukum penjara di Purwokerto. Ia diadili tanpa pengacara dan membacakan pembelaannya dalam bahasa Jawa.

Bapak

KETIKA itu pukul 07.30 tanggal 28 September 2009 saat saya sedang berhenti di lampu merah pertigaan gejayan. Mata ini sedang seliwar-seliwer tengok kanan-kiri mencari pemandangan sampai akhirnya tertumbuk pada motor di sebelah barat laut saya. Motor biasa yang dikendarai bapak yang biasa pula dalam pandangan saya.

Namun coretan di ujung joknya membuat hati ini tergelitik. Saya kira bapak ini adalah seorang pegawai yang hendak berangkat kerja. Jamak seperti biasanya kita menemui orang-orang tak dikenal dalam sehari-hari, kita tidak pernah memikirkan lebih jauh mengenai orang-orang tersebut. Kita hanya sebatas membayangkan mereka semata seperti tampaknya mereka. Meskipun kita tahu kalau semuanya belum tentu seperti kelihatannya.

18 Oktober 2009

Journey to the West

Sumber
SUATU hari dalam perjalanan, saat sedang menyetir, tiba-tiba saya berpikir untuk menyebut perjalanan ini adalah Perjalanan ke Barat, Journey to The West. Purwokerto memang berada di barat Jogja. Saya membayangkan kisah Kera Sakti dan kawan-kawannya berjalan selama 14 tahun. Kisah di jaman yang tidak begitu jelas, mungkin di awal kemunculan Buddha, atau masa awal masuknya Buddha ke China. Bisa juga kita berpikir Tong Sam Cong hidup di awal abad 20 ketika sastra surealis berkembang. Kini cerita itu dikontemporerkan lewat khayalan saya. Saya adalah ringkasan Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Wu Chi, dan Tie Pat Kai dalam satu tubuh di jaman informatika dan serba digital.

L’Imagination du Café

Sumber

TIDUR adalah ciri biologis manusia. Ibu sering bilang “mau jadi manusia setengah dewa apa?” saat memarahi anak-anaknya yang gemar begadang. Tapi, suka tidur itu penyakit. Dan itu penyakit saya. Semilir angin, acara yang membosankan, kuliah yang diisi ceramah panjang, nonton film, mendengarkan lagu, pikiran kosong, atau sedang kurang kerjaan, maka saya akan mengantuk. Paling berbahaya tentu ketika sedang nyetir motor. Saya selalu pulang ke rumah naik motor di sore hari, ketika angin hangat menampar-nampar wajah dibalik kaca helm dan sinar matahari yang mulai menggelincir ke barat (celakanya saya menuju ke barat juga) menusuk mata, menyilaukan, sehingga mata yang kritis ini harus menyipit. Saya selalu ngantuk di perjalanan.

Tiga Raja

ADA kesamaan antara Raja Airlangga dari Medang Kamulan, Raden Wijaya pendiri Majapahit, dan Prabu Yudistira Raja Astina. Ada benang merah antara mereka bertiga, walaupun hanya dua di antaranya yang ada di kehidupan nyata, Yudistira hanya ada di cerita, walau cerita yang disadur dari yang nyata. Tapi, apakah yang “nyata” itu?

Strange Hobby

Ada suatu masa, ketika aku merasa tersadar kalau aku adalah seorang manusia dengan pemikiran sendiri. Aku adalah individu merdeka yang punya interpretasi khas atas suatu hal. Aku ingat momen itu tapi lupa kapan tepatnya. Dan seiring perjalanan waktu aku belajar memahami dan mengidentifikasi karakteristikku.

Rumah Idaman

Sebelum memasuki pekarangan rumah berwarna kuning pucat itu, kau harus membuka pintu pagarnya dulu. Pagar kayu sepinggang orang dewasa itu catnya masih baru, abu-abu. Untuk pemukiman seperti ini, pagar hanya pembatas pekarangan saja fungsinya.

Pertarungan Bawah Tanah

Di rumah, ada lima speaker yang jadi pendendang tembang: 2 speaker dari dua Tv, 1 speaker komputer, 1 speaker Hp, dan mulut saya. Dalam hal intensitas “kenyalaan”, speaker dari 1 Tv adalah jawaranya. Tv ini menyala mulai dari ketika penghuni rumah yang pertama kali bangun, bangun, sampai penghuni rumah yang terakhir tidur, tidur. Dihitung-hitung kurang lebih 20 jam sehari. Kalau soal siapa pendendang lagu termasif, komputer menang. Minimal setiap hari dua orang di rumah menyetel komputer bergantian, berkali-kali menyalakan dan mematikan sehari semalam, dan setiap kali menyala pasti memutar lagu dulu baru bekerja. Track record si kompi baru kalah kalau saya pulang. Berduet dengan Hp atau akapela, saya adalah pendendang termasif. Jadinya, rumah kami tak pernah sunyi dari alunan nada. Mayor, minor, soprano, tenor, jazz, rock, dan fals.

Boleh Kan Nggak Sepakat?

MALAM-malam di rumah, sekarang rasa rumah tak lagi rumah, rumah dalam arti house bukan home, karena home saya sekarang ya kos. Saya rindu kos dan rindu kawan-kawan. Kawan-kawan saya itu koneksi internet beserta komputer, boleh juga atau emang butuh MP3 yang menghibur, barangkali mau mendengar suara orang mati si Raja Pop, saya suka dia walaupun yang namanya pop itu kayak apa saya juga kurang tahu.