Kata itu keluar dari
mulut Dwicipta, penulis yang jamak dikenal sebagai cerpenis. Ia berdomisili di
Yogya. Siang ini, 23 April 2015, saya duduk berhadap-hadapan dengannya di
warungnya, hanya lima ratus meter dari perpustakaan Universitas Gadjah Mada. Hari
ini peringatan hari buku sedunia dan kami memutuskan untuk mengobrol tentang
pencuri buku. Atau lebih tepatnya: dirinya sebagai pencuri buku.
:: Untuk Gita dan percintaannya yang (ia buat) getir.
PERSIS seperti
dua tahun lalu, ketika aku menunggumu keluar dari kantor, hari ini aku duduk di
trotoar. Depan rumahmu. Pagi masih buram. Pukul 5.30. Adakah kamu sedang
mengambil wudu di dalam sana?
Salah satu dari sekian foto yang sedikit, menampilkan Hatta tersenyum.
(Mengenang 112 Tahun Kelahiran Bung Hatta, 12 Agustus 1902-12 Agustus 2014)
BAYANGKAN Sukarno dan Hatta adalah kenalan kita yang kadang kita temui ketika sedang berkumpul dengan teman-teman. Bayangkan bahwa mereka selalu datang berdua dan duduk berdekatan, mungkin jadinya akan seperti ini: Sukarno sibuk membuat lelucon-lelucon, tangannya bergerak-gerak ketika bercerita, sembari terus senyum dan ketawa (memamerkan gingsulnya yang manis). Di sebelahnya, Hatta duduk dengan tenang, memakai kemeja lengan panjang licin, celana panjang lipatan bekas seterikanya lurus kaku, dan sepatu tanpa debu. Sambil menyimak guyonan Karno, ia memasukkan gula ke dalam teh, mengaduknya dengan sikap yang benar (siku di atas meja), dan tak banyak bicara.
Sadar tidak, sih, di serial "Upin Ipin", Meimei itu selalu disinisin sama Mail? Anehnya, mereka selalu kelihatan berdekatan. Duduk juga sebelahan. Kalau main, berdirinya juga sebelahan. Dan Mail juga suka sekali menimpali Meimei. Hahaha. (Demam karena akhir-akhir ini selalu nonton "Upin Ipin" di YouTube.)
"So I hope you see that I
Would love to love you"
—The Beatles, “If I Feel”
PERTEMUAN pertamanya dengan lelaki itu begitu puitik, membuatnya merasa bergetar. Ia bukan pencerita yang baik, tetapi ketika ia menuturkan kisah pertemuan itu pada kawannya, kawannya dapat merasai keindahan itu. Lelaki itu membuatnya merasai tremendum. Ia seolah menjadi seniman karena cinta.
Catatan: tulisan ini dibuat untuk Kolom Media Literasi.coedisi pertama, Juli 2014. Media ini belum selesai pembangunan situs webnya.
Oleh Prima S. W.
Juli ini, edisi perdana media kooperasi Literasi.co
yang dikelola Gerakan Literasi Indonesia dirilis. Dari sekian banyak portal
berita daring yang terus bertumbuhan tiap hari, apa yang membuat kami berbeda? Mengapa
kami perlu ada?
Jan,
retoris temen yah ndadak takon kabare ko. Genah-genah rong dina sepisan ngirim
WA. Nek ora ya minimal mention neng Twitter apa komen status neng FB. Jan-jane
nyong krasa nek carane dewek gole batiran mandan aneh. Biyen mbok ora patia
akrab? Siki be nek ketemu kadang mandan bingung arep ngomong apa. Biasane ya
bahas mantane ko, gebetane ko, nek ora ya kepopuleran ko neng Twitter. Hahaha.
Bangga nyong duwe kanca sing followere tekan ewon-ewon. Nyong arep telung atus
be kayane angel banget koh. Pas ngerti mention-e ko dibales simbah GM, wuah,
iri banget rasane.
Film "Sophie's World" yang diangkat dari novel Dunia Sophie.
Keluar di tahun 1999.
Dunia Sophie | Jostein Gaarder | Mizan | Cet. XVIII,
November 2006
DALAM
kamar gelap, sambil terbujur di ranjang, kadang pikiran-pikiran itu melintas:
bagaimana rupa Tuhan? Sampai di mana keluasan semesta? Apakah kita akan
sepenuhnya sirna setelah mati? Jika pada akhirnya jawaban-jawaban yang hadir
terlalu mengerikan, kadang saya memilih segera tidur.
Jauh
sebelum mengenal filsafat, ternyata kita sudah kerap berfilsafat. Seorang kawan
pernah bercerita, sewaktu duduk di kelas I SD, ia bertanya pada gurunya, “Malaikat
itu laki-laki atau perempuan?” Tak sesusah paparan dalam buku-buku, filsafat
justru keluar dari mulut anak kecil.
Hatta
dalam Alam Pikiran Yunani juga
sependapat. Dalam penjelasannya soal metode filsafat Sokrates, sesungguhnya
Sokrates tidak menyusun langkah-langkah yang rumit. Ia hanya terus bertanya, “Apakah
berani?”, “Apakah indah?”. Pertanyaan soal apa itu adalah pertanyaan anak
kecil, tulis Hatta.
Foto di sampul depan: tahanan politik di Buru sedang bersawah. Foto di sampul belakang: perjumpaan Pram dengan istri, pertama setelah 14 tahun, 21 Desember 1979. (Sumber: haryolawe.blogspot.com)
Judul : Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid
I
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera
Tahun terbit : 1995
MESKI benci untuk mengakuinya, saya sendiri adalah
bagian dari demam Pram. Tapi keadaan memang memungkinkan/memaksakan begitu. Karya-karya
Pram baru saya temui saat kuliah, ketika teman-teman juga membacai Pram. Waktu SMA
atau sebelum-sebelumnya, blas, melintas pun tak pernah nama itu.
LUPUS
itu satu tapi banyak, banyak tapi satu. Bukunya ada banyak, tapi yang kita
kenal, ya, Lupus. Mirip-mirip serial Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Bukunya ada banyak, tapi
kita kenal sebagai keutuhan. Lupus.
Lupus
adalah bacaan kocak sebelum era Raditya Dika dimulai. Di perpustakaan sekolah,
di taman baca, saya selalu ketemu Lupus.
Kata sampul belakangnya, Lupus sudah
terjual lebih dari 1 juta sekian-sekian eksemplar. Makin dahsyat, ditambahi
foto Hilman, sang pengarang, juga. Plus embel-embel “Jago Ngocol Seindonesia”.