YOGYAKARTA sudah punya nama gemerlap dalam jagat pariwisata Indonesia dan, mungkin, secuplik dunia, sebagai kota maupun provinsi. Namun sayangnya, ia masih direduksi pantas dikunjungi sekadar karena “kekayaan budaya”. Tak heran, jika melihat iklan-iklan audio-visual yang menampilkan beberapa detik kilasan yang kiranya merepresentasikan Yogyakarta (selanjutnya disebut Jogja), maka tak diragukan lagi, yang muncul pastilah Malioboro, Kraton, adegan tari Jawa, Prambanan, dan Borobudur (yang sesungguhnya merupakan teritori Jawa Tengah).
Apa
tak ada yang baru dari Jogja?


